Batu Bara ICE Newcastle Dibuka Lebih Tinggi di 148,00, Dekat dengan Tertinggi 2026

  • Batu Bara ICE Newcastle dibuka dengan gap atas di 148,00.
  • Iran menghentikan komunikasi dengan AS.
  • Pasar memerhatikan saham-saham perusahaan batu bara Indonesia.

Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 147,00 yang lebih tinggi 0,58% dibandingkan penutupan hari kemarin. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 148,00 meskipun turun dari level pembukaannya. Namun demikian, posisinya masih dekat dengan tertinggi 2026 di 150,00 yang diraih pada 3 Maret di tengah berita AS-Iran serta penerapan kebijakan ekspor baru komoditas Indonesia yang merupakan salah satu negara pengekspor besar batu bara di dunia.

Secara teknis batu bara ini berada dalam tren naik yang jelas karena berada jauh di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 67,58 menunjukkan momentumnya bullish karena berada di atas level netral 50 namun hati-hati karena dekat dengan level-level jenuh beli.

Negosiator Iran akan menghentikan aksi kirim pesan dengan Amerika Serikat, seperti diberitakan CNBC. Iran juga akan menutup Selat Hormuz yang dilakukan sebagai tindakan balasan atas pelanggaran gencatan senjata.

Namun, ABC News melaporkan pada hari Senin bahwa Presiden AS, Donald Trump, mengatakan akan mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz dalam seminggu ke depan.

Kabar-kabar di atas sempat membuat harga komoditas-komoditas bertahan dekat level pembukaan hari. Namun, WTI dan batu bara terlihat turun dari level-level pembukaannya sambil menantikan informasi yang tidak bertentangan untuk menetapkan pergerakan arah yang lebih jelas.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Juni 2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $121,83 naik dari $116,32
  • Batubara I (5.300 GAR) $84,53 naik dari $80,34
  • Batubara II (4.100 GAR) $58,81 naik dari $57,61
  • Batubara III (3.400 GAR) $40,32 naik dari $39,35

Hari ini merupakan hari kedua penerapan kebijakan ekspor komoditas strategis melewati satu pintu BUMN (Badan Usaha Milik Negara) PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Namun, pasar tampak lebih memerhatikan pada dampak saham-saham pertambangan mengingat hari ini pasar kembali buka setelah kemarin libur Hari Lahir Pancasila.

Bursa Efek Indonesia (BEI) melayangkan pertanyaan resmi kepada perusahaan-perusahaan batu bara terkait soal dampak Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola ekspor SDA pada kelangsungan usaha secara umum.

Dalam keterbukaan informasi yang dirilis pada 29 Mei 2026, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) sudah mengetahui perihal rencana pemerintah soal BUMN khusus ekspor. Namun, perseroan belum menerima Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola SDA dimaksud sampai dengan keterbukaan informasi ini dirilis sehingga belum bisa menginformasikan sikap dan dampaknya pada perseroan.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Euro: Nada netral dalam kisaran yang ditentukan terhadap dolar – UOB

Quek Ser Leang dan Lee Sue Ann dari UOB menggambarkan pasangan mata uang EUR/USD sebagai netral setelah pembalikan pada hari Senin dari 1,1606 untuk ditutup di 1,1630. Mereka memprakirakan pasangan mata uang ini akan konsolidasi dalam perdagangan harian antara 1,1610 dan 1,1660, sementara kisaran yang lebih luas 1,1590–1,1685 tetap berlaku.
अधिक पढ़ें Previous

Inflasi Zona Euro Mempercepat: Mengapa Euro Mundur?

Euro (EUR) merayap lebih tinggi terhadap Dolar AS (USD) pada hari Selasa, meskipun pasangan mata uang ini mundur dari tertinggi sesi di 1,1650, diperdagangkan di 1,16440 pada saat berita ini ditulis
अधिक पढ़ें Next