Batu Bara ICE Newcastle di Area 133,90, Mencerna Hasil Pertemuan Presiden Amerika Serikat dan Tiongkok

  • Batu Bara ICE Newcastle tidak membuat kemajuan sepanjang hari kemarin.
  • Presiden AS, Donald Trump, bertemu dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping.
  • Rusia dan Indonesia menunjukkan komtimen investasi di bidang energi.

Harga batu bara ICE Newcastle front month ditutup di 133,90 kemarin yang lebih rendah 1,40% dari penutupan hari sebelumnya. Batu bara ini membuka hari Rabu dengan gap bawah di 133,90 dan tidak menunjukkan pergerakan sama sekali sepanjang hari. Ke depan, para pedagang akan mencerna hasil pertemuan antara Presiden AS dan Presiden Tiongkok yang berpotensi memengaruhi sentimen untuk komoditas secara umum.

Momentum dalam batu bara berada di titik kritis karena Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 49,21 dalam persimpangan antara menuju momentum bullish atau bearish. Namun dari sisi tren, komoditas ini masih memertahankan tren naik seperti yang ditunjukkan oleh posisi Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang berada di bawah harga. Harga batu bara ini juga tetap di atas level-level pra konflik AS-Iran.

Suhu di pelabuhan Newcastle adalah 16°C dengan peluang hujan pada malam hari. Hujan bisa memengaruhi harga batu bara jika hujan ini menghentikan proses pemuatan baru bara ke dalam kapal di pelabuhan sampai mengakibatkan kemunduran jadwal pengiriman. Namun, mengingat perhatian terutama tertuju pada pertemuan dua pemimpin negara besar dan perkembangan di Timur Tengah, hujan ini diprakirakan tidak memberikan pengaruh yang signifikan.

Perhatian pasar tertuju pada pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, di Beijing selama hari ini dan besok. Xinhua News Agency memberitakan bahwa Presiden Xi mengatakan pintu Tiongkok akan terbuka lebar kepada para CEO yang mendampingi Presiden Trump hari ini. Sementara Trump percaya hubungan kedua negara akan lebih baik dari sebelumnya.

Dilaporkan juga bahwa kedua pemimpin mempertimbangkan "Board of Trade" untuk mengurangi tarif sekitar $30 miliar pada barang-barang non sensitif serta diprakirakan membahas perang Iran, perdagangan, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta soal Taiwan.

Perkembangan apa pun dari pertemuan di atas bisa memengaruhi harga batu bara mengingat Tiongkok adalah negara yang menggunakan batu bara secara masif untuk pembangkit listrik. Optimisme yang muncul bisa menimbulkan prospek positif serta berpotensi meningkatkan kebutuhan akan energi dari industri-industri yang mengasilkan barang untuk kebutuhan ekspor dan sebaliknya jika ada pesimisme.

Terkait konflik Timur Tengah, kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap dibuka dan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, seperti diinformasikan Reuters. Namun demikian, Selat Hormuz masih belum bisa dilalui dengan bebas saat ini untuk mengangkut minyak dan gas yang pada akhirnya menjaga permintaan batu bara sebagai alternatif gas untuk pembangkit listrik. International Energi Agency (EIA) memprakirakan pasokan minyak global secara keseluruhan akan turun sekitar 3,9 juta barel per hari (bph) sepanjang 2026 karena perang AS-Iran.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 179.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $106,57 naik dari $103,43
  • Batubara I (5.300 GAR) $79,56 naik dari $77,71
  • Batubara II (4.100 GAR) $55,66 naik dari $52,84
  • Batubara III (3.400 GAR) $38,76 naik dari $38,30

Sektor energi dan sumber daya mineral menjadi salah satu fokus dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia-Rusia Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknis di Rusia. Forum ini juga untuk memperkuat kerja sama antara kedua pihak di sektor-sektor prioritas, seperti diinformasikan dalam siaran pers Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan bahwa, "Kerja sama di sektor energi (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil."

Beliau juga mempertegas komitmen pemerintah untuk menambah kapasitas pembangkit listrik nasional yang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menambah kapasitas pembangkit 70 GW dengan 62%-nya berasal dari energi baru terbarukan. Sementara menargetkan dua unit pembangkit listrik tenaga nuklir dengan total kapasitas 500 MW.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Presiden AS Trump: Mengadakan diskusi yang sangat positif dan konstruktif dengan Xi

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada jamuan negara di Beijing bahwa ia telah melakukan diskusi yang sangat positif dan konstruktif dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping, sambil menyebutnya sebagai “teman”
আরও পড়ুন Previous

Dolar Kanada: Nada BoC Cenderung Sedikit Hawkish – TD Securities

Para ahli strategi TD Securities mencatat Ringkasan Pertimbangan Bank of Canada (BoC) bulan April menyeimbangkan risiko perdagangan AS dengan kekhawatiran atas inflasi.
আরও পড়ুন Next