WTI Memangkas Penurunan Intraday Dekat $88,20 di Tengah Menguatnya Dolar AS
- Harga minyak mentah memulihkan sebagian dari penurunan intraday setelah mencapai level terendah dalam dua minggu.
- Investor memprakirakan perbaikan harga minyak akan mendorong peningkatan produksi minyak mentah AS meskipun jumlah rig berkurang.
- Imbal hasil obligasi AS membaik karena sikap hawkish The Fed, sehingga memperkuat Dolar AS (USD).
Harga minyak mentah memangkas beberapa penurunan intraday, meskipun diperdagangkan lebih rendah sekitar $88,20 per barel selama sesi Eropa pada hari Selasa. Rusia telah memutuskan untuk melonggarkan larangan ekspor bahan bakarnya, yang awalnya diterapkan untuk menstabilkan pasar domestik. Langkah ini diprakirakan dapat mengurangi tekanan terhadap harga minyak mentah.
Selain itu, Arab Saudi dan Rusia, dua eksportir minyak terkemuka dunia, juga berperan dalam mendorong kenaikan harga minyak mentah WTI. Kedua negara telah bersama-sama mengumumkan perpanjangan pengurangan produksi minyak hingga akhir tahun 2023.
Kerusuhan ekonomi di Tiongkok, importir minyak mentah utama dunia memengaruhi sentimen permintaan minyak mentah. Namun, data makro terbaru mengindikasikan stabilisasi ekonomi, yang mungkin memberikan sedikit dukungan terhadap emas cair.
Jumlah rig minyak dan gas menurun menjadi total 630 selama pekan yang berakhir pada tanggal 22 September. Ini menandai angka terendah sejak Februari 2022. Secara khusus, jumlah rig minyak AS berkurang delapan menjadi 507, yang merupakan level terendah yang tercatat sejak Februari 2022, sedangkan rig gas berkurang tiga menjadi 118.
Meskipun terjadi penurunan jumlah rig, terdapat ekspektasi bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan mendorong peningkatan produksi minyak mentah AS.
Menurut proyeksi dari Energy Information Administration (EIA), produksi minyak mentah AS diantisipasi akan meningkat dari 11,9 juta barel per hari (bph) pada tahun 2022 menjadi 12,8 juta barel per hari pada tahun 2023 dan selanjutnya menjadi 13,2 juta bph pada tahun 2024.
Kehati-hatian pasar dan optimisnya imbal hasil obligasi Pemerintah AS mendukung kekuatan Dolar AS (USD), yang memberikan tekanan pada harga minyak West Texas Intermediate (WTI).
Indeks Dolar AS (DXY) memangkas kenaikan intraday dan berbalik dari level tertinggi sejak November. Namun, mata uang ini terus diperdagangkan lebih tinggi di sekitar 106,00 pada saat ini.
Sikap hawkish Federal Reserve AS (The Fed) terhadap lintasan suku bunga memperkuat imbal hasil obligasi Pemerintah AS, yang mendorong Greenback. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10-tahun berada di dekat 4,51%, sedikit di bawah level tertinggi sejak Oktober 2007.
Investor kemungkinan akan mengamati rilis makro utama minggu ini, termasuk Keyakinan Konsumen, Pesanan Barang Tahan Lama, Klaim Pengangguran Awal, dan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi/Personal Consumption Expenditures (PCE) Inti AS, yang merupakan pengukur inflasi yang disukai Federal Reserve.
Data penting ini akan memberikan wawasan penting mengenai tekanan inflasi dalam perekonomian AS dan dapat membantu dalam menentukan keputusan perdagangan yang melibatkan Greenback, yang mungkin berdampak pada harga minyak mentah.